Dalamdeklarasi itu, termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur, serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Kisah Gerindra dan kepala garuda
menjadipartai politik yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan tatanan politik negara yang melandaskan diri pada nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas dalam wadah negara kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pada pancasila dan undang-undang dasar 1945 yang senantiasa berdaulat di bidang politik, berkepribadian
Sebanyak lima bakal calon bupati dan wakil bupati yang mengikuti penjaringan di DPC Partai Gerindra Samosir pada Pilkada 2020, diundang untuk memaparkan visi dan misinya, Rabu (6/11/2019).. Pemaparan visi misi yang digelar 6 sampai 8 November 2019 dan dilaksanakan di Aula Hotel Saulina Aek Rangat, Siogung-ogung Kecamatan Pangururan ini mengundang lima balon.
KetuaUmum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar usai melakukan pertemuan di Kertanegara, Jakarta, Sabtu, 18 Juni 2022. Godok Visi Misi Bersama Sebelum Tentukan Capres. Koalisi nonparlemen mengklaim mewakili 13,6 juta suara pada Pemilu 2019. Angka itu merupakan penambahan dari jumlah suara
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. VISIMenjadi Partai Politik yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan tatanan politik negara yang melandaskan diri pada nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang senantiasa berdaulat di bidang politik, berkepribadian di bidang budaya dan berdiri diatas kaki sendiri dalam bidang kedaulatan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus pembangunan nasional yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pemerataan hasil-hasil pembangunan bagi seluruh warga bangsa dengan senantiasa berpegang teguh pada kemampuan tatanan sosial dan politik masyarakat yang kondusif untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan kesejahteraan supremasi hukum dengan mengedepankan azas praduga tak bersalah dan persamaan hak di hadapan hukum serta melindungi seluruh warga Negara Indonesia secara berkeadilan tanpa memandang suku, agama, ras dan/atau latar belakang kekuasaan pemerintahan secara konstitusional melalui Pemilu Legislatif , Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah untuk menciptakan lapisan kepemimpinan nasional yang kuat dan bersih disetiap tingkat pemerintahan.
- Partai Gerakan Indonesia Raya atau dikenal dengan Partai Gerindra merupakan salah satu partai politik yang secara sah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum KPU sebagai peserta dalam Pemilihan Umum Pemilu dunia perpolitikan Tanah Air, nama Gerindra sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Pada tahun 2019, Gerindra mendapat urutan ketiga sebagai peraih suara terbanyak di DPR dengan jumlah 78 kursi atau suara. Selain itu, partai ini juga sudah dua kali mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden, tepatnya pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Sedangkan pada Pemilu 2009, Prabowo diusung menjadi calon wakil presiden. Sejarah Partai Gerindra Mengutip laman resmi sejarah awal pendirian parpol satu ini bermula pada tahun 2007 silam. Kala itu Fadli Zon dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo sempat berbincang mengenai perkembangan politik yang dinilai "jauh dari nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya."Setelah berbincang, keduanya sepakat membuat partai baru guna memberikan harapan baru bagi tetapi, wacana pembuatan partai baru itu menuai pro kontra di kubu Hashim dan Prabowo, terlebih di kubu Prabowo Subianto yang pada saat itu tengah menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat Partai laun, setelah melalui pembicaraan yang lumayan alot, akhirnya pada akhir tahun 2007, tercetus nama Partai Gerindra yang disarankan oleh Hashim kepada Fadli Zon. Sedangkan untuk lambang garuda digagas oleh Prabowo Partai Gerindra ini bisa disebut terlalu mendesak bak maraton, sebab waktu pendeklarasiannya berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum pada 6 Februari tercetusnya nama Gerindra, para pendiri partai baru di tahun itu antara Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, Fadli Zon, dan Muchdi Pr, memikirkan dengan matang saat di Bangkok, Thailand. Saat itu, mereka berkumpul dalam acara Sea Games Desember perkumpulan itu akhirnya dimanfaatkan para pendiri partai untuk membahas nama sekaligus lambang partai, hingga akhirnya tercetus Partai Indonesia Raya, namun langsung menuai dilematik karena ada kesamaan dengan PIR Partai Indonesia Raya di masa lalu.“Kalau begitu, pakai kata GERAKAN, jadi Gerakan Indonesia Raya,” ungkap Hashim, dikutip di laman Partai Subianto kemudian menyarankan lambang kepala garuda sebagai identitas Partai Gerindra serta langsung mendapat persetujuan dari para pendiri burung garuda yang menghadap kanan itu melambangkan keberanian dalam bersikap sekaligus bertindak. Kemudian sisik di leher yang berjumlah 17, jengger dan jambul 8 buah, bulu telinga 4 buah, serta bingkai gambar segi lima memiliki arti hari kemerdekaan 17–8-1945 atau 17 Agustus 1945. Visi Misi Partai Gerindra Dalam andilnya di dunia politik Tanah Air, Partai Gerindra memiliki memiliki visi yang didasarkan pada Pancasila dan UUD 46. Selain itu, ditujukan juga untuk menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan tatanan politik negara yang berlandaskan pada nilai-nilai nasionalisme serta religiusitas, serta senantiasa berdaulat di bidang politik, berkepribadian di bidang budaya, dan berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang untuk misi Partai Gerindra, terdapat 5 poin penting yang dibawanya, di antaranya yakni;1. Mempertahankan kedaulatan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus Mendorong pembangunan nasional yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pemerataan hasil-hasil pembangunan bagi seluruh warga bangsa dengan senantiasa berpegang teguh pada kemampuan sendiri. 3. Membentuk tatanan sosial dan politik masyarakat yang kondusif untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan kesejahteraan Menegakkan supremasi hukum dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah dan persamaan hak di hadapan hukum serta melindungi seluruh warga Negara Indonesia secara berkeadilan tanpa memandang suku, agama, ras dan/atau latar belakang golongan. 5. Merebut kekuasaan pemerintahan secara konstitusional melalui Pemilu Legislatif , Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah untuk menciptakan lapisan kepemimpinan nasional yang kuat dan bersih di setiap tingkat Urut Gerindra di Pemilu 2024 Mengutip ANTARA, Partai Gerindra dalam Pemilu 2024 menurut keputusan KPU, mendapatkan nomor urut 2, dari 18 partai politik peserta Pemilu sejumlah pemberitaan, sosok Prabowo Subianto disinyalir kuat akan mencalonkan diri kembali sebagai calon presiden itu ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, pada saat dirinya menghadiri acara HUT ke-15 Partai Gerindra di Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah. Menurut dia, Gerindra memiliki tujuan ingin menjadikan Prabowo Subianto sebagai presiden.“Apakah rakyat kita sudah menikmati kekayaan itu? kader belum. Itu sebabnya Gerindra ingin Prabowo presiden 2024," kata Muzani seperti dikutip di laman pada 1 Februari 2023. Masih di waktu yang sama, Muzani juga menegaskan di hadapan para kader Partai Gerindra, jika Prabowo diberikan kesempatan sebagai pemimpin Indonesia di tahun 2024 nanti, maka salah satu misi yang akan dibawanya yakni kebijakan pembangunan, terutama Ibu Kota Negara NusantaraIKN, akan terus juga PKB Ajak Gerindra Deklarasi Capres-Cawapres Jelang Ramadan Manuver Nasdem ke Sekber Gerindra-PKB & Nasib Koalisi Perubahan - Politik Kontributor Imanudin AbdurohmanPenulis Imanudin AbdurohmanEditor Alexander Haryanto
Bermula dari Keprihatinan, Partai Gerindra lahir untuk mengangkat rakyat dari jerat kemelaratan, akibat permainan orang-orang yang tidak peduli pada sebuah perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, terjadi obrolan antara intelektual muda Fadli Zon dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Ketika itu, November 2007, keduanya membahas politik terkini, yang jauh dari nilai-nilai demokrasi sesungguhnya. Demokrasi sudah dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan memiliki kapital besar. Akibatnya, rakyat hanya jadi alat. Bahkan, siapapun yang tidak memiliki kekuasaan ekonomi dan politik akan dengan mudah jadi korban. Kebetulan, salah satu korban itu adalah Hashim sendiri. Dia diperkarakan ke pengadilan dengan tudingan mencuri benda-benda purbakala dari Museum radya Pustaka, Solo, Jawa tengah. “Padahal Pak Hashim ingin melestarikan benda-benda cagar budaya,“ kata Fadli mengenang peristiwa itu. Bila keadaan ini dibiarkan, negara hanya akan diperintah oleh para mafia. Fadli Zon lalu mengutip kata-kata politisi inggris abad kedelapan belas, Edmund Burke “The only thing necessary for the triumph [of evil] is for good men to do nothing.” Dalam terjemahan bebasnya, “kalau orang baik-baik tidak berbuat apa-apa, maka para penjahat yang akan bertindak.“ terinspirasi oleh kata-kata tersebut, Hashim pun setuju bila ada sebuah partai baru yang memberikan haluan baru dan harapan baru. Tujuannya tidak lain, agar negara ini bisa diperintah oleh manusia yang memerhatikan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan golongannya saja. Sementara kondisi yang sedang berjalan, justru memaksakan demokrasi di tengah himpitan kemiskinan, yang hanya berujung pada pendirian partai pun kemudian diwacanakan di lingkaran orang-orang Hashim dan Prabowo. Rupanya, tidak semua setuju. Ada pula yang menolak, dengan alasan bila ingin ikut terlibat dalam proses politik sebaiknya ikut saja pada partai politik yang ada. Kebetulan, Prabowo adalah anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, sehingga bisa mencalonkan diri maju menjadi ketua umum. Namun, ketika itu Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla adalah wakil presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Mana mau Jusuf Kalla memberikan jabatan Ketua Umum Golkar kepada Prabowo?” kata perdebatan cukup panjang dan alot, akhirnya disepakati perlu ada partai baru yang benar-benar memiliki manifesto perjuangan demi kesejahteraan rakyat. Untuk mematangkan konsep partai, pada Desember 2007, di sebuah rumah, yang menjadi markas IPS Institute for Policy Studies di Bendungan Hilir, berkumpulah sejumlah nama. Selain Fadli Zon, hadir pula Ahmad Muzani, M. Asrian Mirza, Amran Nasution, Halida Hatta, Tanya Alwi, Haris Bobihoe, Sufmi Dasco Ahmad, Muchdi Pr, Widjono Hardjanto dan Prof Suhardi. Mereka membicarakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga AD/ART partai yang akan dibentuk. “Pembahasan dilakukan siang dan malam,” kenang Fadli. Karena padatnya jadwal pembuatan AD/ART , akhirnya fisik Fadli ambruk juga. Lelaki yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif di IPS ini harus dirawat di rumah sakit selama dua tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan partai baru ini. Bahkan dia merasa pesimistis bahwa gagasan pembentukan partai baru itu akan terus berlanjut. Namun diluar dugaan, ketika Hashim datang menjenguk di rumah sakit, Hashim tetap antusias pada gagasan awal untuk mendirikan partai politik. Akhirnya, pembentukan partai pun terus dilakukan secara maraton. Hingga akhirnya, nama Gerindra muncul, diciptakan oleh Hashim sendiri. Sedangkan lambang kepala burung garuda digagas oleh Prabowo Partai Gerindra terbilang mendesak. Sebab dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, yakni pada 6 Februari 2008. Dalam deklarasi itu, termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI tahun bangsa dan wawasan kebangsaan harus menjadi modal utama untuk mengeratkan persatuan dan kesatuan. Sehingga perbedaan di antara kita justru menjadi rahmat dan menjadi kekuatan bangsa indonesia. Namun demikian mayoritas rakyat masih berkubang dalam penderitaan, sistem politik kita tidak mampu merumuskan dan melaksanakan perekonomian nasional untuk mengangkat harkat dan martabat mayoritas bangsa indonesia dari kemelaratan. Bahkan dalam upaya membangun bangsa, kita terjebak dalam sistem ekonomi pasar. Sistem ekonomi pasar telah memporak-porandakan perekonomian bangsa, yang menyebabkan situasi yang sulit bagi kehidupan rakyat dan bangsa. Hal itu berakibat menggelembungnya jumlah rakyat yang miskin dan menganggur. Pada situasi demikian, tidak ada pilihan lain bagi bangsa indonesia ini kecuali harus menciptakan suasana kemandirian bangsa dengan membangun sistem ekonomi Partai Gerindra terpanggil untuk memberikan pengabdiannya bagi bangsa dan negara dan bertekad memperjuangkan kemakmuran dan keadilan di segala Gerindra dan Kepala GarudaMemberi nama partai politik gampang-gampang susah. Karena nama partai berkaitan dengan persepsi yang akan diingat oleh masyarakat selaku konstituen. Sebelum nama Gerindra muncul, para pendiri partai ini seperti Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, Fadli Zon dan Muchdi Pr juga harus memikirkan nama yang tepat. Ketika itu di Bangkok, Thailand, mereka berkumpul untuk acara Sea Games Desember 2007, demi mendukung tim indonesia, terutama polo dan pencak silat yang berhasil lolos untuk dipertandingkan di Prabowo adalah ketua IPSI Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia. Namun ajang kumpul-kumpul tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membahas nama dan lambang partai. Nama partai harus memperlihatkan karakter dan ideologi yang nasio-nalis dan kerakyatan sebagaimana manifesto Gerindra. tersebutlah nama “Partai Indonesia Raya”. Nama yang sebenarnya tepat, namun sayang pernah digunakan di masa lalu, yakni PIR Partai Indonesia Raya dan Parindra. “Kalau begitu pakai kata GERAKAN, jadi Gerakan Indonesia Raya,” ucap Hashim penuh semangat. Peserta rapat pun kemudian menyetujuinya. Selain gampang diucapkan, juga mudah diingat Gerindra, begitu bila disingkat. Nah, setelah persoalan nama selesai, tinggal soal lambang. Lambang apa yang layak digunakan?Muncul ide untuk menggunakan burung garuda. Namun, ini lambang yang sudah banyak digunakan partai lain. apalagi simbol Pancasila yang tergantung di dada garuda, mulai dari bintang, padi kapas, rantai, sampai kepala banteng dan pohon beringin, sudah digunakan oleh partai yang ada sekarang. Untuk menemukan lambang yang tepat, Fadli Zon mengadakan survei sebagian masyarakat justru menyukai bila Gerindra menggunakan lambang harimau. Harimau adalah binatang yang sangat perkasa dan menggetarkan lawan bila mengaum. Namun, Prabowo memiliki ide lain, yakni kepala burung garuda, ya hanya kepalanya saja. Gagasan itu disampaikan oleh Prabowo sendiri, yang juga disetujui oleh pendiri partai yang jadilah Partai Gerindra yang kita kenal sekarang. Perpaduan antara nama dan lambang yang tepat, sebab keduanya menggambarkan semangat kemandirian, keberanian dan kemakmuran rakyat. Kepala burung garuda yang menghadap ke kanan, melambangkan keberanian dalam bersikap dan bertindak. Sisik di leher berjumlah 17, jengger dan jambul 8 buah, bulu telinga 4 buah, dan bingkai gambar segi lima yang seluruhnya mengandung arti hari kemerdekaan, 17-8-1945. Dalam perjalanannya kemudian, terbukti, Gerindra mendapatkan tempat di hati masyarakat, meski berusia muda. Ketika iklan kampanye gencar dilakukan, burung garuda dan suaranya ikut memberi latar belakang sehingga para penonton merasa tergugah dengan iklan tersebut.
Visi Menjadi Partai Politik yang mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan tatanan politik negara yang melandaskan diri pada nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang senantiasa berdaulat di bidang politik, berkepribadian di bidang budaya dan berdiri diatas kaki sendiri dalam bidang ekonomi. Misi Mempertahankan kedaulatan dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus pembangunan nasional yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan pemerataan hasil-hasil pembangunan bagi seluruh warga bangsa dengan senantiasa berpegang teguh pada kemampuan tatanan sosial dan politik masyarakat yang kondusif untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dan kesejahteraan supremasi hukum dengan mengedepankan azas praduga tak bersalah dan persamaan hak di hadapan hukum serta melindungi seluruh warga Negara Indonesia secara berkeadilan tanpa memandang suku, agama, ras dan/atau latar belakang kekuasaan pemerintahan secara konstitusional melalui Pemilu Legislatif , Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah untuk menciptakan lapisan kepemimpinan nasional yang kuat dan bersih disetiap tingkat pemerintahan.
visi misi partai gerindra