Untukbisa menjadi peri jenis lain seh ingga bisa ikut ke Mainland, Tinker Bell belajar kepada peri-peri lain misalnya belajar membuat embun dari peri sungai, belajar memberi cahaya kepada kunang-kunang dari peri cahaya dan lain-lain. Tetapi semua itu tentu saja gagal total karena bakat Tinker Bell adalah sebagai peri pengrajin.
TRADISILISAN_16_Mengejar Embun ke EropaProgram TRADISI LISAN di Channel Youtube SAV Puskat akan menampilkan produksi video/film maupun videp dokumentasi ker
MengejarEmbun Ke Eropa. 2,694 likes. Movie
gelisahku menanti tetes embun pagi. tak kuasa ku memandang datangmu matahari Kartika mematikan handphonenya dan pergi mendekati Satya yang sejak tadi menungguianya. Nonton film yang tadinya membuatnya gila sekarang berubah menjadi hal yang menyenangakan dalam hidupnya. yano ingin pergi ke eropa"apa maksudnya,padahal baru kemarin
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. Film yang memberikan simbol semangat untuk membangun Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi dengan memperbaiki moral masyarakat memang sudah jarang kita temui. Film Mengejar Embun ke Eropa garapan sutradara Haryo Sentanu Murti ini mencoba untuk memberikan sesuatu yang berbeda melalui pendekatan budaya di bidang pendidikan di lingkungan kampus. Mengambil lokasi di Kendari dan Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, film ini menyajikan sebuah cerita yang kental dengan budaya daerah tersebut. Bermula dari seorang anak bernama Puro Rizky Hanggono bersama anak-anak lainnya yang tinggal di Pulau Muna mengawali harinya dengan berlarian di antara tanaman singkong untuk “mandi” dengan mendapatkan embun pagi dari dedaunan. Kegiatan itu terus dilakukan hingga Puro dan anak-anak lainnya dewasa. Puro pada suatu ketika menghadiri acara adat bertemu dengan seorang gadis bernama Ani Putri Ayudya. Benih-benih cinta muncul yang akhirnya membawa mereka menjadi sebuah keluarga bahagia dengan dikaruniai 3 orang anak. Puro berkerja di Universitas Delapan Penjuru Angin UDPA di Kendari dimana ia melihat adanya kesalahan dalam sistem pada kampusnya. Semangat Puro untuk memperbaiki kelemahan sitem tersebut tidak pernah surut walaupun harus menghadapi cobaan-cobaan berat. Bahkan dengan semangatnya ia bisa menimba ilmu ke Eropa yang kelak ia terapkan di tanah kelahirannya. Cerita film ini berjalan dengan amat cepat dan cenderung datar. Setiap momen yang disajikan berganti dengan cepat sehingga berkesan memaksa untuk penceritaannya. Ketika Puro dicopot jabatannya sebagai Kepala Jurusan Sosial Ekonomi dengan cepat waktu berganti menggambarkan bahwa ia sudah di Eropa tanpa ada latar belakang yang jelas bagaimana prosesnya ia bisa sampai disana serta bagaimana secara mental ia menghadapi cobaan tersebut. Setiap momen dalam filmnya terlihat memaksa untuk menggambarkan sosok Puro yang selalu semangat dan pantang menyerah serta nyaris tak ada momen yang menunjukan sebaliknya. Semuanya dibangun seolah untuk memberikan motivasi kepada penonton bahwa jangan pernah menyerah dan patah semangat dengan cobaan yang kita alami. Sedikit kegalauan batin pada tokoh ini sebenarnya bisa memberikan warna serta sentuhan cerita yang lebih manusiawi. Dari sisi visual, film ini juga kurang mengeskplor segala potensi keindahan wilayah Kendari dan Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Demikian pula beberapa lokasi di Eropa seperti Roma, Pompei, Vatikan, Leiden disajikan kurang menarik. Pengambilan gambar yang tanggung dan pergerakan kamera yang kasar membuat komposisi gambarnya kurang enak untuk dinikmati. Walaupun dalam beberapa adegan sajian beberapa tarian dan musik tradisional lokal mampu memberikan nilai tambah. Hampir keseluruhan ilustrasi musik pun menggunakan sentuhan alunan musik lokal. Acara adat dengan tarian tradisional juga disisipi dalam beberapa momen walau secara visual disajikan kurang menarik. Mengejar Embun ke Eropa memiliki pesan-pesan yang secara gamblang diucapkan Puro pada setiap momen yang ia lewati. Pesan-pesan tersebut mengajarkan kita untuk tidak pantang menyerah, selalu semangat, serta bertanggung jawab dengan cara kita masing-masing untuk memperbaiki moral bangsa ini. “Ketika kita menanam pohon, lalu ada orang lain yang mencabutnya, kita tanam lagi pohon yang baru! Jika masih ada yang mencabut pohon tersebut, kita tanam lagi 2 pohon yang baru! Cabut 2 pohon tersebut, kita tanam 100 pohon baru, bahkan kita tanam 1000 pohon baru! Jangan pernah menyerah!”, ucap Puro dengan lantang. Setidaknya film ini dapat menjadi motivasi bagi film-film produksi kita lainnya untuk memasukan unsur budaya lokal untuk membangun negeri ini. Pesan sekuat apapun semestinya bisa tersaji dengan baik secara cerita maupun visual, sisi ini yang sepertinya masih menjadi kelemahan film-film kita. WATCH TRAILER
12/15/2016 ID Drama 1h 26m UserScore Overview Muna Island children start their lives by taking a dew bath before going to school. Haryo Sentanu Murti Director You need to be logged in to continue. Click here to login or here to sign up. Global s focus the search bar p open profile menu esc close an open window ? open keyboard shortcut window On media pages b go back or to parent when applicable e go to edit page On TV season pages → right arrow go to next season ← left arrow go to previous season On TV episode pages → right arrow go to next episode ← left arrow go to previous episode On all image pages a open add image window On all edit pages t open translation selector ctrl+ s submit form On discussion pages n create new discussion w toggle watching status p toggle public/private c toggle close/open a open activity r reply to discussion l go to last reply ctrl+ enter submit your message → right arrow next page ← left arrow previous page Settings Enable Keyboard Shortcuts
Trailer & Sinopsis Can not load trailer, your browser does not support HTML5 video. Anak-anak Pulau Muna yang tinggal di daerah krisis air, mengawali kehidupannya dengan mandi embun sebelum pergi ke sekolah. Puro adalah salah satu anak laki-laki Muna yang masa kecilnya hanya bisa mandi kalau ada air embun. Demikian juga Ani anak perempuan Muna yang juga mengalami mandi embun. Mereka berlarian di antara tanaman singkong untuk mendapatkan embun pagi. Mereka adalah anak-anak para peladang yang hidupnya sederhana. Saat dewasa, dalam suatu acara tarian adat perayaan syukuran mereka bertemu. Cinta mereka akhirnya berpadu dalam sebuah pernikahan. Sebuah keluarga yang harmonis penuh kemesraan. Nasib mengantarkan Puro menuju Eropa. Di Roma, Vatikan, Padua, Napoly, Pompeii, dan Leiden, selain menemukan kekayaan budaya yang indah, juga bertemu Roberta gadis Belanda yang cantik. Namun tetap menjaga kesetiaan pada Dra. Ani istrinya yang tinggal di Kendari. Sepulang dari Eropa, Ir Puro, bekerja di Universitas Delapan Penjuru Angin UDPA Kendari. Namun, usaha memperbaiki etos kerja para dosen dan memberantas manipulasi nilai berujung pada pencopotan jabatan Kepala Jurusan Sosial Ekonomi. Walau begitu, loyalitas dan dedikasi kepada UDPA dan atasan tidak pernah surut. Tanggung jawab Prof. Puro, menjadi semakin berat ketika jabatan rektor dipikulnya. Kampus ini sempat menonjol sebagai kampus tukang demo. Perlawanan terhadap premanisme di kampus akhirnya dilakukan dengan melibatkan seluruh potensi kampus serta membangun jaringan dengan pihak luar. Pada akhirnya, perubahan demi perubahan terjadi, dan kesuksesan SDM di Kampus UDPA mengingatkan kembali pada kebiasaan mandi dengan cara mengejar embun di dedaunan pagi hari.
Siapa sih yang enggak suka nonton film? Apalagi kalau film yang ditonton sarat akan pesan moral di dalamnya. Selain menambah wawasan, kamu juga bisa belajar banyak hal dari perjalanan hidup tokoh dalam film tersebut. Nah, bagi kamu yang suka nonton, “Mengejar Embun ke Langit Eropa” adalah salah satu film yang wajib kamu tonton. Pasalnya, film yang dibintangi oleh Rizki Hanggono dan Putri Ayudya ini ternyata terinspirasi dari kisah nyata, lho. Film ini mengangkat kisah perjalanan hidup salah satu dosen di Universitas Halu Oleo yang juga merupakan alumnus kampus tersebut. Sehingga tidak heran Universitas Halu oleo dijadikan salah satu latar tempat dalam film ini. Beberapa pesan moral yang bisa kamu petik dari film ini adalah sebagai berikut Kesuksesan Berawal Dari Cita-Cita Film “Mengejar Embun ke Eropa” ini mengambil lokasi di Pulau Muna dan Kendari, Sulawesi Tenggara. Di awal cerita, kamu akan disuguhi potret kehidupan anak-anak di Pulau Muna yang hidup serba terbatas dan krisis akan air bersih. Setiap pagi, anak-anak suku Muna hanya bisa mandi air embun yang menempel di dedaunan. Meski begitu, mereka tetap ceria, mereka tetap semangat ke sekolah. Mereka sadar bahwa dengan sekolah, mereka bisa menggapai cita-cita. Kalau kamu, cita-citanya apa? Di antara kamu pasti ada yang menjawab Lulus SNMPTN atau SBMPTN di kampus favorit. Setidaknya, tantangan itulah yang akan kalian hadapi dalam waktu dekat ini. Yang jelas, apapun cita-cita kamu, ketika ingin mewujudkannya maka berusahalah sekeras mungkin. Kalau kamu ingin lulus di perguruan tinggi favorit, maka belajar sungguh-sungguh. Sebab tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang tak setinggi cita-cita. Teguh Memegang Prinsip Film ini mengisahkan Prof. Dr, Ir. Puro yang ingin merubah apa yang selama ini telah terjadi di Universitas Delapan Penjuru Mata Angin UDPA. Tokoh Puro yang diperankan oleh Rizky Hanggono mengalami konflik dalam perjalanannya menjabat sebagai seorang kepala jurusan. Berbagai masalah datang menghampiri Puro hingga pada akhirnya jabatan sebagai Kepala Jurusan Sosial Ekonomi dicopot paksa oleh pejabat kampus UDPA karena dianggap menentang kebijakan kampus yang sarat akan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bagaimana reaksi kamu tentang konflik yang dialami tokoh Puro? Apakah yang dilakukan Puro adalah hal yang salah? Tentu tidak. Justru tindakan Puro patut dicontoh karena berani menentang apa yang dianggapnya salah. Ketika banyak orang memilih untuk terlibat dalam praktik KKN, Puro teguh memegang prinsipnya meskipun ia harus dicopot dari jabatan kepala jurusan. Tapi, menurutnya, hal itu lebih baik daripada memberi makan keluarganya dari uang haram. Dunia kampus yang akan kamu masuki nantinya adalah miniatur kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya. Kamu akan dihadapkan dengan berbagai situasi yang menguji prinsip hidup kamu. Misalnya saja, di jurusanmu sedang pemilihan ketua himpunan jurusan. Salah satu calon ketua ada yang “bermain amplop”. Di sinilah prisip kamu diuji apakah kamu akan memilih calon ketua berdasarkan kemampuannya atau memberikan suara karena ada iming-iming uang. Tentu yang menentukan adalah kamu sendiri. Jadilah Orang yang Amanah Dalam film ini dikisahkan tokoh Puro berhasil menyelesaikan studinya di Eropa. Sepulangnya dari Eropa, Puro bekerja di Universitas Delapan Penjuru Angin di Kendari UDPA, akan tetapi usahanya memperbaiki etos kerja para dosen serta memberantas manipulasi nilai malah mengakibatkan dirinya dicopot dari jabatan Kepala Jurusan Sosial Ekonomi. Namun, loyalitas, dan dedikasi Puro untuk UDPA, tak pernah surut. Ia selalu menjadi pribadi yang amanah dalam mengemban tugas yang diberikan. Hingga pada akhirnya, Puro dipercaya untuk menjadi rektor di kampus tersebut. Quipperian, Sikap amanah adalah salah satu pesan yang bisa kamu teladani dalam kehidupan, baik di kampus maupun di rumah. Amanah berarti teguh memegang janji. Artinya, ketika kamu diberikan tugas, kamu harus menjalankannya dengan baik. Sikap amanah bisa kamu latih ketika nanti berada di kampus. Dengan mengikuti organisasi, kamu akan belajar bagaimana mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan. Hormati Orangtua Sosok Puro dalam film ini adalah sosok yang sangat menghormati dan menghargai kedua orangtuanya. Meskipun telah memiliki pekerjaan yang mapan, ia tidak pernah sekalipun bersikap tak acuh kepada kedua orangtuanya. Quipperian juga harus seperti itu. Meskipun sekolah kamu sudah tinggi dan pekerjaan kamu sudah mapan nanti, kamu harus tetap tunduk pada orangtua karena tanpa mereka kamu bukan siapa-siapa. Tidak Ada Kekuatan Lain yang Melebihi Kekuatan Doa Salah satu faktor kesuksesan seseorang adalah doa. Doa adalah senjata orang-orang beriman. Dengan berdoa kepada Tuhan, kamu akan lebih fokus dalam melakukan apapun. Karena kamu sadar bahwa apapun yang kamu harapkan, Tuhan lah yang menentukan. Sosok Puro yang taat beragama membuktikan hal tersebut. Dengan doa, sesuatu yang kelihatannya tidak mungkin, justru bisa saja terjadi. Bila melihat latar keluarga Puro yang tidak mampu, hal yang mustahil bagi dia untuk melanjutkan pendidikan. Namun, dengan kekuatan doa, pada akhirnya Puro bisa melanjutkan studinya bahkan sampai ke Eropa. Wah, hebat ya! Begitu juga dengan kamu. Selain berusaha dengan belajar sungguh-sungguh, kamu juga harus berdoa agar diberikan yang terbaik saat pengumuman UN maupun SNMPTN atau SBMPTN. Nah, itulah beberapa pesan moral yang bisa kamu petik dari Film “Mengejar Embun Ke Eropa”. Eits, tapi ada beberapa hal yang mesti kamu tahu. Bahwa tokoh Prof. Dr. Ir. Puro, dalam film ini mewakili karakter Prof. Dr. Ir. Usman Rianse, di kehidupan nyata. Prof. Usman adalah rektor Unversitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara. Beliau berasal dari suku Muna, salah satu suku yang mendiami Sulawesi Tenggara. Mantan ketua forum rektor ini telah menerbitkan buku biografinya yang berjudul “Usman Rianse, Anak Pinggiran Menggapai Impian”. Nah, semoga film ini bisa menginspirasi kamu ya, Quipperian. Penulis Asep Anugrah Referensi
nonton film mengejar embun ke eropa